Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Daftar Judul Dective Conan Movie 1-17

1. Detective Conan: The Time-Bombed Skyscraper
(名探偵コナン 時計じかけの摩天楼 Meitantei Konan Tokei Jikake no Matenrō?) 19 April 1997. 95 menit
2. Detective Conan: The Fourteenth Target
(名探偵コナン 14番目の標的 Meitantei Konan Jyuuyon banme no Tagetto?) 18 April 1998 1,05 miliar. 99 menit
3. Detective Conan: The Last Wizard of the Century
(名探偵コナン 世紀末の魔術師 Meitantei Konan Seikimatsu no Majutsushi?) 17 April 1999 1,45 miliar.  100 menit
4. Detective Conan: Captured in Her Eyes
(名探偵コナン 瞳の中の暗殺者 Meitantei Konan Hitomi no Naka no Ansatsusha?) 22 April 2000 2,5 miliar.  99 menit
5. Detective Conan: Countdown to Heaven
(名探偵コナン 天国へのカウントダウン Meitantei Konan Tengoku e no Kauntodaun?) 21 April 2001 2,9 miliar. 99 menit
6.Detective Conan: The Phantom of Baker Street
(名探偵コナン ベイカー街の亡霊 Meitantei Konan Beikā Sutorīto no Bōrei?) 20 April 2002 3,4 miliar. 107 menit
7. Detective Conan: Crossroad in the Ancient Capital
(名探偵コナン 迷宮の十字路 Meitantei Konan Meikyū no Kurosurōdo?) 19 April 2003 3,2 miliar. 108 menit
8. Detective Conan: Magician of the Silver Sky
(名探偵コナン 銀翼の奇術師 Meitantei Konan Gin-yoku no Majishan?) 17 April 2004 2,8 miliar. 110 menit
9. Detective Conan: Strategy Above the Depths
(名探偵コナン 水平線上の陰謀 Meitantei Konan Suiheisenjō no Sutoratejī?) 19 April 2005 2,15 miliar. 109 menit
10. Detective Conan: The Private Eyes' Requiem
(名探偵コナン 探偵たちの鎮魂歌 Meitantei Konan Tantei-tachi no Requiem?) 15 April 2006 3,03 miliar. 111 menit
11. Detective Conan: Jolly Roger in the Deep Azure
(名探偵コナン 紺碧の棺 Meitantei Konan Konpeki no Jorī Rojā?) 27 April 2007 2,53 miliar. 95 menit
12. Detective Conan: Full Score of Fear
(名探偵コナン 戦慄の楽譜 Meitantei Konan Senritsu no Furu Sukoa?). 19 April 2008 2,42 miliar. 116 menit
 13. Detective Conan: The Raven Chaser
(名探偵コナン 漆黒の追跡者 Meitantei Konan Shikkoku no Chaser?) 18 April 2009 3,5 miliar. 111 menit
 14. Detective Conan: The Lost Ship in the Sky
(名探偵コナン 天空の難破船 Meitantei Konan Tenkuu no Rosuto Shippu?).  17 April 2010. 3,1 miliar[18] 102 menit
15. Detective Conan: Quarter of Silence
(名探偵コナン 沈黙の15 Meitantei Konan Chinmoku no Kwōtā?)
17. Detective Conan : Case Closed 
 Meitantei Conan (名探偵コナン?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Setangkai Mawar Kuning untuk Sahabatku

Aku adalah seorang gadis yang baru memasuki  sekolah tingkat SMA. Namaku adalah Dea. Aku memiliki pribadi yang baik, cantik, pintar bermain piano.
Suatu hari yang cerah, terdengar kicauan burung dan hembusan angin segar. Dengan santainya, aku bangun dari tempat tidurku dan memandang jam wekerku yang sudah lama berbunyi  kriiing..  yang menunjukkan angka 6.00.
Hoooam, halah masih jam enam. Apa!! Jam enam. Ya ampun!. Masuk sekolah baru,” maklum biasanya aku berangkat jam  enam dan sudah siap segalanya tinggal berangkat ke sekolah.
Terburu-buru aku menuju kamar mandi  byurr byurr brrrr .. Aku masih sempat salat meskipun bangun kesiangan karena begadang nonton film sampai tengah malam. Setelah siap, buru-buru aku berjalan  menyusuri tangga sambil berlari dan memakai jam tanganku.
“Ada apa sayang, kok ribet sekali?” tanya bunda sambil duduk ditempat makan bersama abiku dan adikku.
“Bund, sudah terlambat, nih  jam 6.30. Ayo Abi, anterin aku.”
Ngomong apa sih, kamu. Ngibul kamu itu. Masih jam 5.45 tuh masih kurang 15 menit lagi,” Abi bingung mendengar perkataanku. Aku melihat jam yang baru saja aku pakai dan menunjukkan yang dibilang oleh Abi. Aku tersipu malu dengan kejadian ini.
“Ya ampun!! Abi dan bunda itu gimana sih gak bilangin aku dari tadi. Kan aku jadi nya terburu-buru. Terburu-buru tu kan sifatnya setan.”
 “Aduh anakku sayang. Gimana kamu lihat jam  itu?. Makanya kalo bangun yang pagi, jangan kesiangan lagi.”
“Sudah-sudah, jangan diurusin lagi. Dea cepetan makan,” kata Abi yang menhentikan percakapan kami.
“Udah ahh Abi. Lagi bad mood makan, nanti aku makan di mobil aja. Bunda taruh di lunch box aja makanannya.”
“Iya anakku sayang, tapi jangan lupa beneran di makan lo, ya,” cloteh bunda lagi yang gemesin telingaku.
“Iya Bunda ku sayang, emmuah. Dan wassalamualaikum.”
“Waalaikum salam hati-hati jangan terburu-buru sayang.”
“Oke-oke Bundaku sayang. Hoaaah...”
Buru-buru aku menuju depan. Dan  masuk kedalam  mobil. Selama di mobil Dea hanya berpikir bagaimana suasana di sekolah barunya, tanpa memikirkan yang lain, sambil memakan  bekalnya.
            Beberapa menit aku sudah sampai di depan sekolah SMA 5 yang merupakan sekolahku sekarang. sekolah yang katanya tempat para anak orang elit dan berprestasi. Tapi itu masih pikiran orang.
“Pak, nanti jangan lupa jemput aku seperti biasa. Oke Pak.” Menyodorkan jempolku ke Pak Sopir.
“Oke, Non,” dengan senyuman khas Pak Sop
            Aku melanjutkan jalanku  menuju gerbang dan akhirnya ku memutuskan untuk berhenti disebuah taman yang indah. Dari kejauhan ada seseorang  sedang memandangku dari depan kelas. Seorang cewek misterius yang tak pergi-pergi walaupun aku memandangnya terus menerus. Sungguh aneh. Tak lama kemudian suara bel berbunyi. teeeetttttt...teeeettt.....teetttt...!. Suara yang sangat sering kita dengar saat kita sekolah yaitu bel masuk sekolah. Buru-buru cewek misterius itu pergi dari tempat saat memandangku. Ku  juga segera menuju kekelas yang sudah ditentukan oleh sekolah. Selama di jalan aku  hanya berpikir siapa cewek misterius itu dan dimana kelasku
            Akhirnya aku telah menemukan kelas tempat ku belajar yang orangnya belum kukenal. Suara riyuh,gaduh yang ada dalam kelasku.
“Hai namaku Aris, nama kamu siapa?,” tanya salah satu siswa kepada teman sebangkunya.
Maklum jika rame pada TAHUN PELAJARAN BARU dan pertama sekolah. Banyak siswa yang belum kenal satu sama lain. Tak lama kemudian seorang guru masuk kelas.
“Assalamualaikum,” seorang guru masuk kelas.
“Walaikumsalam,” jawab murid yang ada dikelas.
Pertemuan ini pun di awali dengan perkenalan yang merupakan budaya kita saat masuk sekolah baru. Agar satu sama lain saling kenal. Dan diteruskan dengan pelajaran.
            Selama di kelas aku hanya bisa diam, tak ingin memperkenalkan. So, aku jadi belum punya teman di kelas.
teeeeet....teeeeeeeeeeeeeeeeeettttt...., inilah yang di tunggu para siswa jika sudah boring dengan pelajran.
            Aku bergegas keluar dari kelas. Aku berjalan menyusuri jalan ke kantin, sendirian tanpa seorang teman. Tiba-tiba di belakang ku ada yang memegangku.
“Hai,” sapanya kepadaku dengan sebuah senyuman.
“Hai juga,” jawab ku dengan nada sedikit kaget
“Kamu bingung ya, siapa aku? Dan kenapa aku  memegangmu?”
Ya, kamu siapa? Kamu kenal aku?”
“So, jelas tahu donk. Aku aja bangkunya dibelakangmu.”
“Ooo.” Jawaban singkatku
“Kamu tau siapa yang lihatin kamu tadi,” cletusnya tiba-tiba.
“Gak tau?”
“Itu aku.”
“Kenapa?”
            Dia pun bercerita bahwa kakak yang  sayangi melebihi sayangya kepada kedua ortunya, walaupun dia tahu tanpa ortunya kakaknya dan dia tidak bakal ada disini. Tapi hanya kakaknyalah yang bisa mengerti dia, dan satu-satunya orang yang tak mengecap dia anak nakal. Namun hidupnya tak lama, dia meninggal karena kecelakaan yang menimpanya secara tragis.
 “Kamu tau kenapa aku cerita begini?” aku juga heran aku hanya menggelengkan kepalaku. Dia cerita bahwa kakak yang dia sayang i seumur hidup dan untuk selamanya wajahnya seperti aku.
“Udah ahh. Lupakan, kamu mau kekantinkan? Yuk, sama aku.”
“Yuk,” terheran-heran.
            Suasana sumpek saat-saat istirahat ialah saat di kantin.  Walaupun begitu sumpeknya sudah di bayar dengan segelintir makanan. Dengan sibuknya ku memilih makanan yang cocok denganku.
            Lohh... kok sama?,” tanyanya.
            “Aku suka ini,” kami mengambil menu yang sama, yaitu bakso,dengan krupuk ikan plus es jeruk. Wajar saja jika kaget, karena menu yang ada di kantin sangat banyak sekali.
            “Jodoh dech... hehehehe,”
            Nyengir kuda dech,” balesanku. Tiba-tiba aku terdiam.
Mmm,... yummy..,” (dalam hatiku kuigin memakan semua makanan yang ada disini)
“Nglamun aja kamu. Kemasukan baru tahu nanti.”
“Hehe.. abis makanannya enak-enak sich,” nyengir dengan disertai gigiku depan terbuka.
Aku dan dia mencari sebuah tempat duduk untuk kita berdua makan. Di saat jam-jam istirahat pasti bangku di kantin pada penuh di banding bangku yang ada dikelas. Dari kejauhan kumelihat sebuah bangku kosong paling pojok.
“Hey.. sini,” lambaian tangan yang tertuju padanya.
Buru-buru dia pergi dan duduk disampingku. Kami saling bercakap-cakap, tertawa dengan riang.
“Ngomong-ngomong nama kamu siapa?,” tanyaku dengan  heran, karena bermenit-menit tadi kita sama sekali belum kenalan nama satu sama lain.
“Nama ku Ivi”
“Namaku Dea. Udah tau kan?.”
teeeeet...teeeetttt....teeeetttt.. bunyi bel yang sangat menjengkelkan, yang mengganggu kami berdua.
            Tuch bel ingin ku bunuh dech kayaknya, ganggu orang  lagi asyik aja,” gerutu didepan meja Ivi.
“Sudahlah, yuk, kembali kekelas. Udah teett tuh.”
            Beberapa pelajaran pun selesai dan waktunya pulang. Ku segera beranjak dari kursi tempat dudukku, seperti biasa aku berjalan menyusuri lorong depan kelas. Dari kejauhan ada seorang cewek memanggilku.
“Deaaaaaaa,” suara yang mengagetkanku dari belakang. Kumenoleh kebelekang, aku tak tau itu siapa. Ternyata dia adalah Ivi.
“Ada apa Ivi. Kok teriak-teriak segala, kaya abis di kejar setan”
Iyaaak. Aku hanya ingin ngajak kamu, nanti jalan-jalan  yuk,” ajaknya dengan muka sangat berharap.
“Kemana?” dengan tanda tanya besar.
“Kemana aja donk. Pokok hati senang. Hahaha .”
“Iya. Nanti jam berapa? Nanti jemput aku dirumah ? oke”
“Bareng pulang gak sama aku”
“Gak kok, kita beda jalur,”
Kita berpisah di gerbang. Aku berjalan kekanan dan dia kekiri.
Setiba dirumah aku segera ganti pakaian dan istirahat. Pintu kamarku yang tak bisa berhenti menantiku untuk membukanya
“Deaaaaaa. Cepat makan dan tidur,”biasa teriakan Bundaku yang menggetarkan dinding rumahku setiap saat aku pulang.
“Iya Bundaaaa. Nanti Dea bisa makan sendiri kok,” gerutu dalam hati yang panas mendengar teriakan Bundaku.
“Beneran iya, Dea.”
Setiap saat pulang sekolah tiada hari tanpa teriakan bunda.  
“Ohh telinga malang sekali nasibmu setiap saat ada suara petir yang menyambarmu”
Beberapa saat, tiba-tiba suara khas hape ku saat ada SMS  masuk berdering.
Arghhh..hooamm  apa ini?” takku merasa aku sudah tertidur pulas. Aku mengusap-usap waajahku yang seperti genderuwo. Ternyata Ivi mengirim pesan singkat padaku sejak 15 menit yang lalu. Yang isinya Ivi sekarang menuju rumah Dea.
Tak lama setelah membuka mata dan menutup kamar mandi kamarku. Aku mendengar suara yang  khas dari bawah.
“Deaaaaaaaaa!!!. Ada temanmu.”
“Iya Bund. Nanti aku turun.”
Kuberanjak dari kamarku, dan turun kelantai bawah. Siapa sich gerangan dikursi ruang tamuku. Ohh ternyata Ivi. Niatnya si Ivi ngajak aku jalan-jalan aku kira begitu. Ech ternyata dia hanya bermain-main di rumahku. Semua yang ada dirumahku kaya-kaya diberantakin sampai dia puas. Aku mengajaknya kekebunku yang penuh dengan bunga mawar
 “Dea, lihat sini,” aku menoleh ke arah datang suara itu, yang ternyata berada di depan tempat santai dirumahku.
“Aaaaaa.... Ivi..!!,” Ivi mencoretku dengan bedak yang ada di meja yang kami lewati.
“Dea, kamu gimana sich mau dandan sampai segitunya. Hahahah.”
Awas ..!! kamu Ivi,” teriakku dengan keras dan sebelnya.
Saking kesalnya aku, aku lupa denah rumahku. Demi mendapatkan Ivi, aku mengelilingi rumahku sampai dua kali. Tanpa aku percaya aku mendekati sebuah kolam renang dekat dengan kebunku. Dan akhirnya ....
Byuuuurrrr .....
            “Ivi, aku basah kuyup,” memandang semua badanku yang tenggelam dipinggir kolam.
            “Dea, aku tau kamu belum mandi bertahun-tahun. Tapi jangan gini juga donk. Pakai cara yang jitu donk,” ejeknya.
            “Awas kamu nanti,” aku segera menyiramnya dengan air kolam. Sehingga dia basah kuyup juga.
            “Aduh Dea, Ivi. Apa-apaan ini, basah kuyup semua. Cepat sana mandi, nanti Bunda siapkan makanan,” bentak Bunda yang memandangku yang sedang kedinginan.
            Kami berdua bergegas kekamarku yang berada dilantai dua, kami bergantian mandi dikamar mandi dikamarku. Selesai aku mandi aku melihat Ivi yang sedang memandangi benda-bendaku dengan heran.
            “Kamu suka mawar putih?”
            “Kamu kok taukalo aku suka mawar merah dengan warna putih?”
            Tuch..” menunjuk barangku.
            Memang sich semua barang-barangku serba putih dan dihiasi pula dengan mawar merah, mulai dari  spring bed,bross,coverlaptop, hiasan almari,kebun belakang rumah dan sebagainya dech. Ternyata dia uga suka mawar putih. Kita memang sehati, mulai dari makanan,minuman, barang kesukaan, dan sekarang hiasan. Ya ampun, memang  jodoh.
            Semua yang ada di tempat tidurku, meja belajar dan sebagainya hancur berantakan bagaikan kapal pecah akibat tabrakan maut yang menhantam terumbu karang akibat semua ulah kami. Kami saling bercanda ria di kamarku tanpa seorang pun yang dapat ,mengganggu gugat kami. Kecuali teriakan Bundaku yang menyuruh kami untuk makan. Buru-buru kami segera menuju ruang makan, disana penuh sekali makanan lezat buatan ala chef  restoran bintang lima.
            Setelah semua selesai dan waktu semakin gelap, Ivi pulang. Dia berpamitan dengan kedua oran tuaku dengan sopan. Tak lupa membawakannya sebuah mawar merah dan mawar putih untunya yang baru saa kupetik dari kebun mawar belakang rumahku tadi.
Hari demi hari kami semakin dekat, kita sudah tiga  tahun kenal dan sekarang aku dan dia sudah lulus. Keluargaku  pun juga  sangat mengenalnya dan menganggapnya sebagai anak sendiri.Meskipun kami cukup dekat bagaikan kepala dengan leher. Kita mengambil beasiswa keluar negri, kami saling mendapatkan beasiswa itu. Walaupun begitu Ivi tidak mengambil beasiswa itu, karena kasihan ibunya yang sering sakit-sakit dan sering ditinggal oleh ayahnya. Semua itu bukan keinginan dari ibunya tetapi keinginan dari Ivi sendiri. Aku pun tidak bisa menemaninya disini, karena aku sudah mengidam-idamkan beasiswa ini dari dulu dan ini semua juga keinginan kedua orang  tuaku. Aku pun terpaksa harus melakukan itu semua.
Tinggal dua bulan aku berangkat untuk mengambil kuliahku diluar negri. Selama itu, aku sibuk dengan persiapan kuliahku nanti, sehingga jarak antara kami benar-benar mulai menjauh. Setiap Ivi berusaha menghubungiku dan menghampiriku, aku selalu tidak ada dan selalu sibuk dengan urusanku sendiri. Meskipun begitu Ivi selalu mengerti bahwa aku  sibuk dengan urusanku yang penting. Karena Ivi adalah sahabatku yang paling dekat dan mengerti aku sepenuhnya, walaupun dalam hatinya merasakan kecewaan yang mendalam dan menyakitkan.
            Suatu saat Ivi mengirim  pesan pendek kepadaku, mengajakku  pergi kesuatu tempat yang selama ini dia menginginkanku untuk pergi kesana. Kali ini dia benar-benar berusaha agar aku ikut, karena dia tahu kalau aku nanti sore sudah terbang keluar negri dan dia menginginkan aku dan dia bersama sepuasnya sebelum kami arang bertemu lagi. Tapi aku terpaksa juga tidak bisa ikut dengan karena masih ada banyak kerjaan untuk mempersiapkan aku pergi keluar negri nanti sore untuk kuliah .
Aku tak mendapatkan pesan singkat dari dia satu pun setelah aku menolak ajakan dia. Aku juga tak bisa kerumahnya untuk pamitankepadanya dan Orang Tuanya dan Ivi. Karena pesawat tinggal sedikit lagi lepas landas
Maaf kan aku teman, aku tak bisa pamitan denganmu secara langsung. Apabila aku tau bahwa pesawat tak segera lepas landas, aku berniat kerumahmu sebelumnya. Dan akan kubilang jangan pernah lupakan aku dan jaga kesehatanmu. Sampai jumpa dua tahun lagi teman, aku sudah di awan melihatmu dari kejauhan. Walaupun kita jauh di mata yakinlah aku selalu ada di hatimu untuk menemanimu saat kamu merasa sakit karena sakit hatimu padaku karena apa yang aku lakukan sekarang ,” inilah kalimat yang aku tulis pada buku yang lalu aku meminta Bunda untuk memberikaannya. Dan sebuah setangkai mawar putih kesukaan Ivi.
Sudah dua tahun berlalu. A ku disini menimba ilmu, saat aku disini sama sekali  tak mendengar berita dari Ivi  dan  bagaimana keadaannya sekarang. Aku sudah berjanji aku akan pulang setelah dua tahun disini. Akhirnya aku pulang aku membeli oleh-oleh untuknya dan keluargaku. Aku sudah berencana langsung beranjak kerumahnya setelah tiba dirumahku.
“Bagaimana Ivi sekarang, apakah dia baik saja?” akhirnya aku pulang, tak sabarku ingin menemuinya.
Beberapa saat aku sampai dirumahnya, aku mersakan keheningan yang tak aku rasakan saat aku di rumah Ivi. Suasana yang riang, bahagia, suka cita, dan kasih sayang. Tapi kini berubah drastis 360 derajat dari suasana semula.
“Assalamualaikum. Ivi ...”
“Iya bentar,” sebuah pintu dibuka oleh seorang wanita yang sudah rapuh, dengan keriput di seluruh permukaan kulitnya. Dan kumerasa mengenal suara itu.
“Ya ampun Dea.. kamu pulang, kenapa tak kabar-kabar dulu kalo kamu mau kesini. Ayo masuk,” ternyata dari balik pintu adlah ibuk Ivi.
“Hehehe baik buk. Mana Ivi buk. Kenapa tidak Ivi yang membukakan pintu. Dia sedang di kamar to buk? Apa........”  ucapankanku terpotong oleh pembicaran yang keluar dari ibu Ivi.
“Cukup Dea. Jangan diteruskan pertanyaan itu”
Kini tiba-tiba suasana hening, tanpa sebab-sebab apapun. Kumerasakan keanehan  apa yang ibu Ivi yang dibicarakan tadi. Ibu Ivi menjelaskan semua yang terjadi saat detik-detik keberangkatanku keluar negri dua tahun yang lalu. Aku sangat-sangat tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibu Ivi, yaitu kata bahwa Ivi sudah benar-benar tidak akan kembali kesamping kita untuk selamanya.
Apa  Ivi  sudah tidak ada, apakah ini hanya khayalanku yang sudah tidak bertemu sekian tahun. Ini hanya cerita fiktif yang ada di Sinetron. Apakah ini hanya canda seorang Ivi. Aku sudah tak tahan memikirkan itu semua. Aku lemas bagaikan tubuh tanpa tulang. Mungkin Ivi hanya kabur kesuatu tempat, hanyalah kata-kata ini yang dapat menenangkanku.
Ibuk pun menceritakan semuanya  apa yang terjadi padanya. Dia pergi untuk selamanya  karena kecelakaan saat dia ingin mengejarku sebelum aku berangkat keluar negeri. Dia berusaha mengejarku saat setelah dia menerima pesan singkatku bahwa aku segera lepas landas. Dia tak ingin jika berpisah tanpa bertemu untuk sekali lagi. Sejak awal ibu Ivi tidak merasakan ketenangan saat melihat anaknya terburu-buru mengendarai motornya. Ibu Ivi juga melihat dia membawa sekuntum mawar merah kesukaanku dan juga menemukannya di sampingnya saat Ivi tergeletak dipinggir jalan .
“Dan ini mawar putih pemberianmu dan sekuntum mawar merah yang dia ingin berikan kepada mu saat itu”
Melihat mawar  kering yang terlihat tak disirami selama dua tahun yang didalamnya terdapat banyak penyesalanku dan harapan seorang Ivi yang belum dia sampaikan sampai dia tidak ada.
“Ivi maafkan aku”,  hanya tetesan air  mata  yang bisa menggambarkan penyesalanku yang  jatuh tepat dikelopak mawar itu.
Tanpa waktu lamaaku pamitan dengan ibu Ivi dan segera ku bergegas pergi menuju tempat dimana gundukan yang berisi tubuh seorang sahabatku dimakamkan. Di perjalanan aku tak lupa membeli beberapa tangkai mawar merah untuk sahabatku.
Penyesalan dan penyesalan yang dapat aku lakukan sekarang. Aku tak bisa mengulang apa yang terjadi di masa itu. Aku hanya bisa merenunginya. Dan tak bisa membayarnya dengan apapun. Terima kasih sahabatku, aku hanya bisa membawakan beberapa tangkai mawar untukmu, untuk menghapus kesalahanku dan membalas apa yang kau lakukan saat itu.


THE END

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS