Aku adalah seorang gadis yang baru memasuki sekolah tingkat SMA. Namaku adalah Dea. Aku memiliki
pribadi yang baik, cantik, pintar bermain piano.
Suatu hari yang
cerah, terdengar kicauan burung dan hembusan angin segar. Dengan santainya, aku
bangun dari tempat tidurku dan memandang jam wekerku yang sudah lama berbunyi kriiing.. yang menunjukkan angka 6.00.
“Hoooam, halah masih jam enam. Apa!! Jam enam. Ya ampun!. Masuk sekolah baru,”
maklum biasanya aku berangkat jam enam dan
sudah siap segalanya tinggal berangkat ke sekolah.
Terburu-buru aku
menuju kamar mandi byurr byurr brrrr ..
Aku masih sempat salat meskipun bangun kesiangan karena begadang nonton
film sampai tengah malam. Setelah siap, buru-buru aku berjalan menyusuri tangga sambil berlari dan memakai
jam tanganku.
“Ada apa
sayang, kok ribet sekali?” tanya bunda sambil duduk ditempat makan
bersama abiku dan adikku.
“Bund, sudah
terlambat, nih jam 6.30. Ayo Abi, anterin aku.”
“Ngomong
apa sih, kamu. Ngibul kamu itu. Masih jam 5.45 tuh masih
kurang 15 menit lagi,” Abi bingung mendengar perkataanku. Aku melihat jam yang
baru saja aku pakai dan menunjukkan yang dibilang oleh Abi. Aku tersipu malu
dengan kejadian ini.
“Ya ampun!! Abi
dan bunda itu gimana sih gak bilangin aku dari tadi. Kan aku jadi
nya terburu-buru. Terburu-buru tu kan sifatnya setan.”
“Aduh anakku sayang. Gimana kamu lihat jam itu?. Makanya kalo bangun yang pagi,
jangan kesiangan lagi.”
“Sudah-sudah, jangan
diurusin lagi. Dea cepetan makan,” kata Abi yang menhentikan percakapan kami.
“Udah ahh
Abi. Lagi bad mood makan, nanti aku makan di mobil aja. Bunda taruh
di lunch box aja makanannya.”
“Iya anakku sayang,
tapi jangan lupa beneran di makan lo, ya,” cloteh bunda lagi yang
gemesin telingaku.
“Iya Bunda ku
sayang, emmuah. Dan wassalamualaikum.”
“Waalaikum
salam hati-hati jangan terburu-buru sayang.”
“Oke-oke
Bundaku sayang. Hoaaah...”
Buru-buru aku
menuju depan. Dan masuk kedalam mobil. Selama di mobil Dea hanya berpikir bagaimana
suasana di sekolah barunya, tanpa memikirkan yang lain, sambil memakan bekalnya.
Beberapa menit aku
sudah sampai di depan sekolah SMA 5 yang merupakan sekolahku sekarang. sekolah
yang katanya tempat para anak orang elit dan berprestasi. Tapi itu masih
pikiran orang.
“Pak, nanti
jangan lupa jemput aku seperti biasa. Oke Pak.” Menyodorkan jempolku ke Pak
Sopir.
“Oke, Non,”
dengan senyuman khas Pak Sop
Aku melanjutkan jalanku
menuju gerbang dan akhirnya ku
memutuskan untuk berhenti disebuah taman yang indah. Dari kejauhan ada seseorang
sedang memandangku dari depan kelas.
Seorang cewek misterius yang tak pergi-pergi walaupun aku memandangnya terus
menerus. Sungguh aneh. Tak lama kemudian suara bel berbunyi. teeeetttttt...teeeettt.....teetttt...!.
Suara yang sangat sering kita dengar saat kita sekolah yaitu bel masuk sekolah.
Buru-buru cewek misterius itu pergi dari tempat saat memandangku. Ku juga segera menuju kekelas yang sudah ditentukan
oleh sekolah. Selama di jalan aku hanya
berpikir siapa cewek misterius itu dan dimana kelasku
Akhirnya aku telah
menemukan kelas tempat ku belajar yang orangnya belum kukenal. Suara riyuh,gaduh
yang ada dalam kelasku.
“Hai namaku Aris,
nama kamu siapa?,” tanya salah satu siswa kepada teman sebangkunya.
Maklum jika
rame pada TAHUN PELAJARAN BARU dan pertama sekolah. Banyak siswa yang belum
kenal satu sama lain. Tak lama kemudian seorang guru masuk kelas.
“Assalamualaikum,”
seorang guru masuk kelas.
“Walaikumsalam,”
jawab murid yang ada dikelas.
Pertemuan ini
pun di awali dengan perkenalan yang merupakan budaya kita saat masuk sekolah
baru. Agar satu sama lain saling kenal. Dan diteruskan dengan pelajaran.
Selama di kelas aku
hanya bisa diam, tak ingin memperkenalkan. So, aku jadi belum punya teman di
kelas.
teeeeet....teeeeeeeeeeeeeeeeeettttt....,
inilah yang di tunggu para siswa jika sudah boring dengan pelajran.
Aku bergegas
keluar dari kelas. Aku berjalan menyusuri jalan ke kantin, sendirian tanpa
seorang teman. Tiba-tiba di belakang ku ada yang memegangku.
“Hai,” sapanya
kepadaku dengan sebuah senyuman.
“Hai juga,” jawab
ku dengan nada sedikit kaget
“Kamu bingung
ya, siapa aku? Dan kenapa aku memegangmu?”
“Ya, kamu
siapa? Kamu kenal aku?”
“So, jelas tahu
donk. Aku aja bangkunya dibelakangmu.”
“Ooo.” Jawaban
singkatku
“Kamu tau siapa
yang lihatin kamu tadi,” cletusnya tiba-tiba.
“Gak tau?”
“Itu aku.”
“Kenapa?”
Dia pun bercerita
bahwa kakak yang sayangi melebihi sayangya
kepada kedua ortunya, walaupun dia tahu tanpa ortunya kakaknya dan dia tidak
bakal ada disini. Tapi hanya kakaknyalah yang bisa mengerti dia, dan
satu-satunya orang yang tak mengecap dia anak nakal. Namun hidupnya tak lama,
dia meninggal karena kecelakaan yang menimpanya secara tragis.
“Kamu tau kenapa aku cerita begini?”
aku juga heran aku hanya menggelengkan kepalaku. Dia cerita bahwa kakak yang
dia sayang i seumur hidup dan untuk selamanya wajahnya seperti aku.
“Udah ahh. Lupakan,
kamu mau kekantinkan? Yuk, sama aku.”
“Yuk,”
terheran-heran.
Suasana sumpek
saat-saat istirahat ialah saat di kantin.
Walaupun begitu sumpeknya sudah di bayar dengan segelintir makanan. Dengan
sibuknya ku memilih makanan yang cocok denganku.
“Lohh... kok sama?,” tanyanya.
“Aku suka ini,”
kami mengambil menu yang sama, yaitu bakso,dengan krupuk ikan plus es jeruk.
Wajar saja jika kaget, karena menu yang ada di kantin sangat banyak sekali.
“Jodoh dech... hehehehe,”
“Nyengir kuda dech,” balesanku. Tiba-tiba aku terdiam.
“Mmm,...
yummy..,” (dalam hatiku kuigin memakan semua makanan yang ada disini)
“Nglamun aja
kamu. Kemasukan baru tahu nanti.”
“Hehe.. abis
makanannya enak-enak sich,” nyengir dengan disertai gigiku depan
terbuka.
Aku dan dia
mencari sebuah tempat duduk untuk kita berdua makan. Di saat jam-jam istirahat
pasti bangku di kantin pada penuh di banding bangku yang ada dikelas. Dari kejauhan
kumelihat sebuah bangku kosong paling pojok.
“Hey.. sini,”
lambaian tangan yang tertuju padanya.
Buru-buru dia
pergi dan duduk disampingku. Kami saling bercakap-cakap, tertawa dengan riang.
“Ngomong-ngomong
nama kamu siapa?,” tanyaku dengan heran,
karena bermenit-menit tadi kita sama sekali belum kenalan nama satu sama lain.
“Nama ku Ivi”
“Namaku Dea.
Udah tau kan?.”
teeeeet...teeeetttt....teeeetttt..
bunyi bel yang sangat menjengkelkan, yang mengganggu kami berdua.
“Tuch bel ingin ku bunuh dech kayaknya, ganggu orang lagi asyik aja,” gerutu didepan meja Ivi.
“Sudahlah, yuk, kembali kekelas. Udah teett tuh.”
Beberapa pelajaran
pun selesai dan waktunya pulang. Ku segera beranjak dari kursi tempat dudukku,
seperti biasa aku berjalan menyusuri lorong depan kelas. Dari kejauhan ada
seorang cewek memanggilku.
“Deaaaaaaa,” suara
yang mengagetkanku dari belakang. Kumenoleh kebelekang, aku tak tau itu siapa.
Ternyata dia adalah Ivi.
“Ada apa Ivi.
Kok teriak-teriak segala, kaya abis di kejar setan”
“Iyaaak.
Aku hanya ingin ngajak kamu, nanti jalan-jalan yuk,”
ajaknya dengan muka sangat berharap.
“Kemana?”
dengan tanda tanya besar.
“Kemana aja
donk. Pokok hati senang. Hahaha .”
“Iya. Nanti jam
berapa? Nanti jemput aku dirumah ? oke”
“Bareng pulang
gak sama aku”
“Gak kok, kita
beda jalur,”
Kita
berpisah di gerbang. Aku berjalan kekanan dan dia kekiri.
Setiba
dirumah aku segera ganti pakaian dan istirahat. Pintu kamarku yang tak bisa
berhenti menantiku untuk membukanya
“Deaaaaaa.
Cepat makan dan tidur,”biasa teriakan Bundaku yang menggetarkan dinding rumahku
setiap saat aku pulang.
“Iya
Bundaaaa. Nanti Dea bisa makan sendiri kok,” gerutu dalam hati yang panas
mendengar teriakan Bundaku.
“Beneran
iya, Dea.”
Setiap
saat pulang sekolah tiada hari tanpa teriakan bunda.
“Ohh
telinga malang sekali nasibmu setiap saat ada suara petir yang menyambarmu”
Beberapa
saat, tiba-tiba suara khas hape ku saat ada SMS masuk berdering.
“Arghhh..hooamm
apa ini?” takku merasa aku sudah
tertidur pulas. Aku mengusap-usap waajahku yang seperti genderuwo. Ternyata Ivi mengirim pesan singkat padaku
sejak 15 menit yang lalu. Yang isinya Ivi sekarang menuju rumah Dea.
Tak lama setelah membuka mata dan menutup kamar
mandi kamarku. Aku mendengar suara yang
khas dari bawah.
“Deaaaaaaaaa!!!.
Ada temanmu.”
“Iya
Bund. Nanti aku turun.”
Kuberanjak dari kamarku, dan turun kelantai bawah.
Siapa sich gerangan dikursi ruang tamuku. Ohh ternyata Ivi. Niatnya si Ivi ngajak aku jalan-jalan aku kira
begitu. Ech ternyata dia hanya bermain-main di rumahku. Semua yang ada
dirumahku kaya-kaya diberantakin sampai dia puas. Aku mengajaknya kekebunku
yang penuh dengan bunga mawar
“Dea, lihat sini,” aku menoleh ke arah datang
suara itu, yang ternyata berada di depan tempat santai dirumahku.
“Aaaaaa....
Ivi..!!,” Ivi mencoretku dengan bedak yang
ada di meja yang kami lewati.
“Dea,
kamu gimana sich mau dandan sampai
segitunya. Hahahah.”
“Awas ..!! kamu
Ivi,” teriakku dengan keras dan sebelnya.
Saking kesalnya aku,
aku lupa denah rumahku. Demi mendapatkan Ivi, aku mengelilingi rumahku sampai
dua kali. Tanpa aku percaya aku mendekati sebuah kolam renang dekat dengan
kebunku. Dan akhirnya ....
Byuuuurrrr .....
“Ivi, aku basah kuyup,” memandang semua badanku yang tenggelam dipinggir
kolam.
“Dea, aku tau kamu belum mandi bertahun-tahun. Tapi jangan gini juga donk. Pakai cara yang jitu donk,” ejeknya.
“Awas kamu nanti,” aku segera
menyiramnya dengan air kolam. Sehingga dia basah kuyup juga.
“Aduh Dea, Ivi. Apa-apaan ini, basah
kuyup semua. Cepat sana mandi, nanti Bunda siapkan makanan,” bentak Bunda yang
memandangku yang sedang kedinginan.
Kami
berdua bergegas kekamarku yang berada dilantai dua, kami bergantian mandi
dikamar mandi dikamarku. Selesai aku mandi aku melihat Ivi yang sedang
memandangi benda-bendaku dengan heran.
“Kamu suka mawar putih?”
“Kamu kok taukalo aku suka mawar merah dengan warna putih?”
“Tuch..”
menunjuk barangku.
Memang sich semua barang-barangku
serba putih dan dihiasi pula dengan mawar merah, mulai dari spring bed,bross,coverlaptop, hiasan
almari,kebun belakang rumah dan sebagainya dech. Ternyata dia uga suka mawar
putih. Kita memang sehati, mulai dari makanan,minuman, barang kesukaan, dan
sekarang hiasan. Ya ampun, memang jodoh.
Semua yang ada di tempat tidurku,
meja belajar dan sebagainya hancur berantakan bagaikan kapal pecah akibat
tabrakan maut yang menhantam terumbu karang akibat semua ulah kami. Kami saling
bercanda ria di kamarku tanpa seorang pun yang dapat ,mengganggu gugat kami.
Kecuali teriakan Bundaku yang menyuruh kami untuk makan. Buru-buru kami segera
menuju ruang makan, disana penuh sekali makanan lezat buatan ala chef
restoran bintang lima.
Setelah semua selesai dan waktu
semakin gelap, Ivi pulang. Dia berpamitan dengan kedua oran tuaku dengan sopan.
Tak lupa membawakannya sebuah mawar merah dan mawar putih untunya yang baru saa
kupetik dari kebun mawar belakang rumahku tadi.
Hari
demi hari kami semakin dekat, kita sudah tiga tahun kenal dan sekarang aku dan dia sudah
lulus. Keluargaku pun juga sangat mengenalnya dan menganggapnya sebagai
anak sendiri.Meskipun kami cukup dekat bagaikan kepala dengan leher. Kita
mengambil beasiswa keluar negri, kami saling mendapatkan beasiswa itu. Walaupun
begitu Ivi tidak mengambil beasiswa itu, karena kasihan ibunya yang sering
sakit-sakit dan sering ditinggal oleh ayahnya. Semua itu bukan keinginan dari
ibunya tetapi keinginan dari Ivi sendiri. Aku pun tidak bisa menemaninya
disini, karena aku sudah mengidam-idamkan beasiswa ini dari dulu dan ini semua
juga keinginan kedua orang tuaku. Aku
pun terpaksa harus melakukan itu semua.
Tinggal
dua bulan aku berangkat untuk mengambil kuliahku diluar negri. Selama itu, aku
sibuk dengan persiapan kuliahku nanti, sehingga jarak antara kami benar-benar
mulai menjauh. Setiap Ivi berusaha menghubungiku dan menghampiriku, aku selalu
tidak ada dan selalu sibuk dengan urusanku sendiri. Meskipun begitu Ivi selalu
mengerti bahwa aku sibuk dengan urusanku
yang penting. Karena Ivi adalah sahabatku yang paling dekat dan mengerti aku
sepenuhnya, walaupun dalam hatinya merasakan kecewaan yang mendalam dan
menyakitkan.
Suatu saat Ivi mengirim pesan pendek kepadaku, mengajakku pergi kesuatu tempat yang selama ini dia
menginginkanku untuk pergi kesana. Kali ini dia benar-benar berusaha agar aku
ikut, karena dia tahu kalau aku nanti sore sudah terbang keluar negri dan dia
menginginkan aku dan dia bersama sepuasnya sebelum kami arang bertemu lagi.
Tapi aku terpaksa juga tidak bisa ikut dengan karena masih ada banyak kerjaan
untuk mempersiapkan aku pergi keluar negri nanti sore untuk kuliah .
Aku
tak mendapatkan pesan singkat dari dia satu pun setelah aku menolak ajakan dia.
Aku juga tak bisa kerumahnya untuk pamitankepadanya dan Orang Tuanya dan Ivi. Karena
pesawat tinggal sedikit lagi lepas landas
“Maaf kan aku teman, aku tak bisa pamitan
denganmu secara langsung. Apabila aku tau bahwa pesawat tak segera lepas
landas, aku berniat kerumahmu sebelumnya. Dan akan kubilang jangan pernah
lupakan aku dan jaga kesehatanmu. Sampai jumpa dua tahun lagi teman, aku sudah
di awan melihatmu dari kejauhan. Walaupun kita jauh di mata yakinlah aku selalu
ada di hatimu untuk menemanimu saat kamu merasa sakit karena sakit hatimu
padaku karena apa yang aku lakukan sekarang ,” inilah kalimat yang aku
tulis pada buku yang lalu aku meminta Bunda untuk memberikaannya. Dan sebuah
setangkai mawar putih kesukaan Ivi.
Sudah
dua tahun berlalu. A ku disini menimba ilmu, saat aku disini sama sekali tak mendengar berita dari Ivi dan
bagaimana keadaannya sekarang. Aku sudah berjanji aku akan pulang
setelah dua tahun disini. Akhirnya aku pulang aku membeli oleh-oleh untuknya
dan keluargaku. Aku sudah berencana langsung beranjak kerumahnya setelah tiba
dirumahku.
“Bagaimana
Ivi sekarang, apakah dia baik saja?” akhirnya aku pulang, tak sabarku ingin
menemuinya.
Beberapa
saat aku sampai dirumahnya, aku mersakan keheningan yang tak aku rasakan saat
aku di rumah Ivi. Suasana yang riang, bahagia, suka cita, dan kasih sayang.
Tapi kini berubah drastis 360 derajat dari suasana semula.
“Assalamualaikum.
Ivi ...”
“Iya
bentar,” sebuah pintu dibuka oleh seorang wanita yang sudah rapuh, dengan
keriput di seluruh permukaan kulitnya. Dan kumerasa mengenal suara itu.
“Ya
ampun Dea.. kamu pulang, kenapa tak kabar-kabar dulu kalo kamu
mau kesini. Ayo masuk,” ternyata dari balik pintu adlah ibuk Ivi.
“Hehehe
baik buk. Mana Ivi buk. Kenapa tidak Ivi yang membukakan pintu. Dia sedang di
kamar to buk? Apa........” ucapankanku terpotong oleh pembicaran yang
keluar dari ibu Ivi.
“Cukup
Dea. Jangan diteruskan pertanyaan itu”
Kini
tiba-tiba suasana hening, tanpa sebab-sebab apapun. Kumerasakan keanehan apa yang ibu Ivi yang dibicarakan tadi. Ibu
Ivi menjelaskan semua yang terjadi saat detik-detik keberangkatanku keluar
negri dua tahun yang lalu. Aku sangat-sangat tidak akan percaya dengan apa yang
dikatakan oleh ibu Ivi, yaitu kata bahwa Ivi sudah benar-benar tidak akan
kembali kesamping kita untuk selamanya.
Apa Ivi
sudah tidak ada, apakah ini hanya khayalanku yang sudah tidak bertemu
sekian tahun. Ini hanya cerita fiktif yang ada di Sinetron. Apakah ini hanya
canda seorang Ivi. Aku sudah tak tahan memikirkan itu semua. Aku lemas bagaikan
tubuh tanpa tulang. Mungkin Ivi hanya kabur kesuatu tempat, hanyalah kata-kata
ini yang dapat menenangkanku.
Ibuk
pun menceritakan semuanya apa yang
terjadi padanya. Dia pergi untuk selamanya karena kecelakaan saat dia ingin mengejarku
sebelum aku berangkat keluar negeri. Dia berusaha mengejarku saat setelah dia
menerima pesan singkatku bahwa aku segera lepas landas. Dia tak ingin jika
berpisah tanpa bertemu untuk sekali lagi. Sejak awal ibu Ivi tidak merasakan
ketenangan saat melihat anaknya terburu-buru mengendarai motornya. Ibu Ivi juga
melihat dia membawa sekuntum mawar merah kesukaanku dan juga menemukannya di
sampingnya saat Ivi tergeletak dipinggir jalan .
“Dan
ini mawar putih pemberianmu dan sekuntum mawar merah yang dia ingin berikan
kepada mu saat itu”
Melihat
mawar kering yang terlihat tak disirami
selama dua tahun yang didalamnya terdapat banyak penyesalanku dan harapan
seorang Ivi yang belum dia sampaikan sampai dia tidak ada.
“Ivi
maafkan aku”, hanya tetesan air mata
yang bisa menggambarkan penyesalanku yang jatuh tepat dikelopak mawar itu.
Tanpa
waktu lamaaku pamitan dengan ibu Ivi dan segera ku bergegas pergi menuju tempat
dimana gundukan yang berisi tubuh seorang sahabatku dimakamkan. Di perjalanan
aku tak lupa membeli beberapa tangkai mawar merah untuk sahabatku.
“Penyesalan dan penyesalan yang dapat aku lakukan
sekarang. Aku tak bisa mengulang apa yang terjadi di masa itu. Aku hanya bisa
merenunginya. Dan tak bisa membayarnya dengan apapun. Terima kasih sahabatku,
aku hanya bisa membawakan beberapa tangkai mawar untukmu, untuk menghapus
kesalahanku dan membalas apa yang kau lakukan saat itu.
THE
END